Hukum Kirchoff

Ada dua hukum Kirchoff yang akan kita bahas, hukum I Kirchoff dan hukum Kirchoff II. Hukum I Kirchoff menyatakan: “Kuat arus yang masuk pada titik percabangan sama dengan kuat arus yang keluar titik percabangan”.

 

 

Hukum II Kirchoff

 

 

Untuk menggunakan hukum II Kirchoff pada rangkaian  satu loop langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

1. Buat perumpamaan arah kuat arus, dan perumpamaan arah loop. Jika arah perumpaan kuat arus salah, maka pada hasil hitungan akan bernilai negatif.

2. GGL diberi tanda positif jika putaran loop pertama bertemu kutub positif GGL, dan diberi tanda negatif jika putaran loop pertama bertemu kutub negatif.

3. Kuat arus diberi tanda positif jika sesuai dengan arah putaran loop.

 

Contoh soal- 01: Hukum Kirchoff (1 loop)

Perhatikan rangkaian listrik berikut, dan tentukan besar kuat arus yang mengalir:

pada rangkaian di atas arah kuat arus dan arah loop sudah ditentukan. selanjutnya kita gunakan hukum II Kirchoff

-E1 – E2 + I (R1+r1+R2+r2) = 0

-12 – 6 + I (4+0,4+5+0,6)=0

-18 + 10 I = 0

I =18/10 = 1,8 A

Contoh soal ke-2: Hukum Kirchoff (1 loop)

Perhatikan gambar berikut:

contoh soal: hukum kirchoff

Jika sumber arus 18 volt memiliki hambatan dalam 1 ohm, beda potensial titik a dan b adalah ….

Penyelesaian:

  • Untuk menyelesaikan pertama kita hitung dulu, besar hambatan paralel (R2 dan R3):
  • Hambatan total rangkaian adalah:

Hambatan total: Rtot=R1 + Rp = 5 + 3 = 8 ohm

  • Besar kuat arus yang mengalir:

  • Besar tegangan antara a dan b adalah:

Vab = I x R1 = 2 x 5 = 10 volt

 

Rangkaian dengan 2 loop

Dalam rangkaian dengan 2 loop maka digunakan hukum I kirchoff dan hukum II Kirchoff. untuk memperjalas bisa digunakan gambar rangkaian berikut:

Pada titik cabang akan berlaku hukum I Kirchoff :

I1 + I2 = I———————————————————– (1)

Loop I (gunakan persamaan hukum II Kirchoff)

4 –I3x2 –I1x 4 = 0

4 –2I3 –4I1 = 0

2I3 + 4I1 = 4

I3 + 2I1 = 2 ———————————————– (2)

 

 

Loop II (gunakan persamaan hukum II Kirchoff)

2 –I3x2 –I2x 4 = 0

2 –2I3 –4I2 = 0

2I3 + 4I2 = 2

I3 + 2I2 = 1 ———————————————– (3)

Lakukan substitusi atau eliminasi persamaan (1); (2) dan (3)

misalnya pers(1) dengan (2)

I1 +  I2 = I3 ——————————————————— (1)

I3 + 2I1 = 2 ———————————————– (2)

I3 + 2(I3I2)= 2

3I3 – 2I2= 2 ———————————————–(4)

pers (3) dan (4)

I3 + 2I2 = 1

3I3 – 2I2= 2 

————-  +

4 I3 = 3

I3 = 3/4 =0,75 A

I3 + 2I2 = 1

0,75 + 2I2 = 1

I2 = (1-0,75)/2 = 0,125 A

I1 + I2 = I3

I1 + 0,125 = 0,75

I1 = 0,625 A

——————————-

Sumber:

Kanginan, Marthen. 2006. Fisika SMA Untuk SMA/MA Kelas X, XI, dan XII. Jakarta : Erlangga.

Pristiadi Utomo, 2007. Fisika Interaktif untuk SMA kelas X, ditulis . Jakarta: Azka Press.

Marteen Kanginan. 2010. Fisika SMA kelas X. Jakarta: Erlangga

RinawanAbadi, dkk. 2009. Buku Panduan Pendidik Fisika untuk SMA/MA untuk kelas X. Klaten: Intan Pariwara.

 

 

 

1 Komentar

  1. We work to keep our clients demands satisfied by offering a wide range of services to buyers and sellers of vintage poster art, including free informal appraisals and auction evaluations, expert advice on collecting, and recommendations on certification, restoration, and conservation.
    Let Me Tell The Story, I Can Tell It All;.
    So many British bands that tried to conjure the spirit of American blues in the late 60s got lost in a haze of endless guitar solos and buffoonery, but The Beatles understood that the heavy, eternal power of the form lives in its simplicity and directness.
    In many ways Austin, Texas, was the last place Beto O Rourke should have been with just over a month left until a pivotal U.
    It seems crazy, but when you look at it from the opposite perspective, it s a damning commentary about how our well-organized societies fail to provide much in the way of meaningful challenges.

    http://abeccomcitupa.niphapasdinghijradercofaconpapod.co/

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.